Rabu, 21 Desember 2011

Laporan Morfologi Tanah Latosol Darmaga Dan Tanah Andosol Sukamantri

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
     Tanah merupakan salah satu komponen terpenting dalam kehidupan di bumi ini, baik untuk bidang kehutanan, pertanian, perkebunan maupun bidang-bidang lainnya. Karena tanah sebagai media untuk tumbuh berbagai tanaman maupun pohon, selain itu tanah juga dimanfaatkan oleh manusia untuk pembangunan contoh tanah berpasir dan tanah berliat (bahan utama untuk batu bata). Selain itu, tanah dapat didefinisikan lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomassa dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.
     Tanah tersusun atas empat komponen penyusunnya, yaitu: bahan padatan (berupa bahan mineral), bahan lain (berupa bahan organik, air, udara), Bahan tanah tersebut rata-rata 50%, bahan padatan (45% bahan mineral dan 5% bahan organik), 25% air dan 25% udara. Tanah mempunyai ciri khas dan sifat-sifat yang berbeda-beda antara tanah di suatu tempat dengan tempat yang lain. Sifat-sifat tanah itu meliputi fisika dan sifat kimia. Beberapa sifat fisika tanah antara lain tekstur, struktur dan kadar lengas tanah. Untuk sifat kimia menunjukkan sifat yang dipengaruhi oleh adanya unsur maupun senyawa yang terdapat di dalam tanah tersebut. Beberapa contoh sifat kimia yaitu reaksi tanah (pH), kadar bahan organik dan Kapasitas Tukar Kation (KTK).
1.2 Tujuan
Tujuan praktikum ini yaitu mengetahui jenis tanah di Darmaga dan di Sukamantri, membandingkan morfologi tanah latosol di Darmaga dan tanah andosol di Sukamantri, mempelajari profil tanah latosol dan andosol, serta mengetahui fungsi tanah andosol dan latosol .

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
# Definisi Tanah
1. Pendekatan Geologi (Akhir Abad XIX)
Tanah: adalah lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit (lapisan partikel halus).
2. Pendekatan Pedologi (Dokuchaev 1870)
Pendekatan Ilmu Tanah sebagai Ilmu Pengetahuan Alam Murni. Kata Pedo = gumpal tanah. Tanah: adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak dipermukaan bumi, yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: bahan induk, iklim, organisme, topografi, dan waktu.
3. Pendekatan Edaphologis (Jones dari Cornel University Inggris)
Kata Edaphos = bahan tanah subur. Tanah adalah media tumbuh tanaman
# Struktur Tanah
Salah satu sistem klasifikasi tanah yang telah dikembangkan Amerika Serikat dikenal dengan nama: Soil Taxonomy (USDA, 1975). Sistem klasifikasi ini menggunakan enam (6) kategori, yaitu:
1. Ordo
2. Subordo
3. Great group
4. Subgroup
5. Family
6. Seri
Sistem klasifikasi tanah ini berbeda dengan sistem yang sudah ada sebelumnya. Sistem klasifikasi ini memiliki keistimewaan terutama dalam hal:
1. Penamaan atau Tata Nama atau cara penamaan.
2. Definisi-definisi horison penciri.
3. Beberapa sifat penciri lainnya.
      Berdasarkan klasifikasi tersebut, dapat diambil pengertian tanah andosol dan latosol. Tanah andosol adalah tanah yang berasal dari abu gunung api. Tanah andosol terdapat di lerenglereng gunung api, seperti di daerah Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Halmahera, dan Minahasa. Tanah-tanah yang umumnya berwarna hitam (epipedon mollik atau umbrik) dan mempunyai horison kambik; kerapatan limbak (bulk density) kurang dari 0,85 g/cm3, banyak yang mengandung amorf atau lebih dari 60 % terdiri dari abu vulkanik vitrik, cinders atau bahan pyroklastik lain. Vegetasi yang tumbuh di tanah andosol adalah hutan hujan tropis, bambu, dan rumput.
      Tanah latosol yaitu tanah yang banyak mengandung zat besi dan aluminium. Tanah ini sudah sangat tua, sehingga kesuburannya rendah. Warns tanahnya merah hingga kuning, sehingga sering disebut tanah merah. Tanah latosol yang mempunyai sifat cepat mengeras bila tersing kap atau berada di udara terbuka disebut tanah laterit.Tanah latosol tersebar di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, JawaTimur, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua. Tanah dengan kadar liat lebih dari 60 %, remah sampai gumpal, gembur, warna tanah seragam dengan dengan batas-batas horison yang kabur, solum dalam (lebih dari 150 cm), kejenuhan basa kurang dari 50 %, umumnya mempunyai epipedon kambrik dan horison kambik. Tumbuhan yang dapat hidup di tanah latosol adalah padi, palawija, sayuran, buah-buahan, karet, sisal, cengkih, kakao, kopi, dan kelapa sawit.

BAB III
DATA


• Foto morfologi Tanah:
Tanah Latosol Darmaga Tanah Andosol Sukamantri
• Data Profil
Data profil terlampir (pada halaman belakang)

BAB IV
PEMBAHASAN
     Sifat morfologi tanah adalah sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari dilapangan. Sebagian sifat morfologi tanah merupakan sifat-sifat fisik dari tanah tersebut. Sifat fisik tanah yang berpengaruh pada kegiatan pertanian antra lain tekstur, struktur, konsistensi, kapasitas memegang air, kapasitas infiltrasi, permeabilitas, drainase, kedalaman efektif, dsb. Faktor tanah yang penting adalah kandungan hara yang tersedia makro dan mikro, pH tanah, kandungan bahan organik, kapasitas tukar kation, kadar bahan beracun (misal: Fe, Al-dd) dsb. Sedangkan bahan biologi yang penting adalah jumlah dan aktivitas organisne di dalam tanah. Tindakan-tindakan terhadap tanah umumnya ditunjukkan untuk menambah dan menjamin keseimbangan hara bagi tanaman, mencegah keracunan, kehilangan, dan kerusakan serta memanipulasi kondisi lingkungan hingga sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan taaman dan hewan. Dalam pengelolaan pertanian pemanfaatan maksimal faktor-faktor tersebut harus memperhatikan untuk menjaga produktivitas dan kegunaan tanah secara lestari. 
      Berdasarkan sifat morfologi tersebut, tanah dapat dibedakan ke dalam profil-profil tanah sesuai sifat morfologinya. Profil Tanah adalah irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga ke batuan induk tanah. Profil dari tanah yang berkembang lanjut biasanya memiliki horison-horison sbb: O –A – E – B – C – R. Solum Tanah terdiri dari: O – A – E – B. Lapisan Tanah Atas meliputi: O – A. Lapisan Tanah Bawah: E – B. Keterangan: O : Serasah / sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dekomposisi serasah (Oa) A : Horison mineral ber BOT tinggi sehingga berwarna agak gelap. E : Horison mineral yang telah tereluviasi (tercuci) sehingga kadar (BOT, liat silikat, Fe dan Al) rendah tetapi pasir dan debu kuarsa (seskuoksida) dan mineral resisten lainnya tinggi, berwarna terang. B : Horison illuvial atau horison tempat terakumulasinya bahan-bahan yang tercuci dari harison diatasnya (akumulasi bahan eluvial). C : Lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk (R) atau belum terjadi perubahan. R:Bahan Induk tanah.
      Tanah latosol yaitu tanah yang banyak mengandung zat besi dan aluminium. Tanah ini sudah sangat tua, sehingga kesuburannya rendah. Warns tanahnya merah hingga kuning, sehingga sering disebut tanah merah. Tanah latosol yang mempunyai sifat cepat mengeras bila tersing kap atau berada di udara terbuka disebut tanah laterit.Tanah latosol tersebar di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, JawaTimur, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua. Tanah dengan kadar liat lebih dari 60 %, remah sampai gumpal, gembur, warna tanah seragam dengan dengan batas-batas horison yang kabur, solum dalam (lebih dari 150 cm), kejenuhan basa kurang dari 50 %, umumnya mempunyai epipedon kambrik dan horison kambik. Tumbuhan yang dapat hidup di tanah latosol adalah padi, palawija, sayuran, buah-buahan, karet, sisal, cengkih, kakao, kopi, dan kelapa sawit. 
     Andosol adalah tanah yang berbahan induk abu volkan, merupakan tanah yang relative muda dibandingkan latosol dan podsolik, yang sifat-sifatnya sangat ditentukan oleh mineral liat yang dikandungnya yaitu alofan yang bersifat amorf. Tanah ini mempunyai horizon A1 tebal yang berwarna hitam karena kaya bahan organic, tetapi tidak mempunyai horizon A2, dengan horizon B berwarna kuning pucat, coklat kekuningan atau coklat diikuti dengan endapan abu volkan terlapuk sampai ke horizon C. umumnya mempunyai kejenuhan basa relative rendah tetapi mempunyai Al dapat ditukar relative tinggi. Terbawa oleh sifat mineral liat dominan yang dimilikinya maka andosol mempunyai sifat tiksotrofik, mempunyai kemampuan megikat air besar, porositas tinggi, bobot isi rendah, gembur, tidak plastis, dan tidak lengket serta kemampuan fiksasi fosfat yang tinggi.
      Tanah podsolik adalah tanah yang mempunyai solum agak tebal (1-2 m), warna tanah merah hingga kuning, batas horizon nyata, tekstur beragam , struktur gumpal pada horizon B, konsistensi teguh samapi gembur. Tanah podsolik merupakan tanah yang mempunyai horizon B argilik, kejenuhan bas kurang dari 50% sejurang-kurangnya horizon B didalam penampung 125 cm dari permukaan. Adanya horizon argilik menunjukkan proses pembentukan tanah podsolik yang utama adalah liksiviasi (pencucian tanah). Sedangkan tanah latosol adalah tanah bersolum dalam, mengalami pencucian dan pelapukan lanjut, berbatas horizon baur, kandungan mineral primer dan unsure hara rendah, konsistensi gembur dengan stabilitas agregat kuat dan terjadi penumpukan relative seskwioksida di dalam tanah akibat pencucian silikat. Warna tanah merah, coklat kemerahan, coklat, coklat kekuningan atau kuning tergantung bahan induk. Warna batuan, iklim dan letak ketinggian. Di Indonesia ditetukan terutam di daerah volkanik baik berasal dari tufa maupun batuan beku.
      Praktikum ini membahas tentang morfologi tanah di Darmaga (Cikabayan dan belakang asrama puteri Instititut Pertanian Bogor), dan di Sukamantri, Bogor. Dalam pengamatan dan data yang diperoleh, masing-masing tanah dapat dibedakan berdasarkan ciri morfologinya. Secara keseluruhan, Tanah di Darmaga (Bogor) mempunyai warna yang lebih cerah dibandingkan tanah di Sukamantri. Selain itu, berdasarkan ciri fisik, kimia, dan biologi, tanah di Darmaga digologkan dalam tanah latosol. Sedangkan tanah tanah di Sukamantri digolongkan tanah andosol. Perbedaan lainnya yaitu horizon tanah latosol Darmaga baur (susah dibedakan horizonnya), Sedangkan tanah di Sukamantri relative lebih mudah. Data lain menunjukkan bahwa tanah di Sukamantri ini mengalami pencucian yang cukup intensif, pencucian intensif dapat menyebabkan tanah ini berkembang menjadi tanah podsolik.
      Perbedaan lain yang dapat dilihat yaitu vegetasi yang tumbuh pada masing-masing lahan berbeda-beda. Vegetasi pada lahan di Dramaga terlihat lebih dominan tanaman tahunan, diantaranya jati dan kelapa sawit. Sedangkan lahan di Sukamantri mayoritas vegetasinya tanaman musiman, yakni sayur-sayuran.

BAB V
KESIMPULAN
      Tanah mempunyai berbagai morfologi tertentu. Sifat morfologi tanah adalah sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di lapangan. Sebagian sifat morfologi tanah merupakan sifat-sifat fisik dari tanah tersebut. Ada beberapa jenis tanah, diantaranya adalah latosol, andosol, podsolik, oksisol, dll. Ada dua lokasi pengamatan, yaitu di daerah Darmaga dan daerah Sukamantri. Berdasarkan data yang diperoleh dalam pengamatan, dapat disimpulkan bahwa setiap profil tanah mempunyai sifat morfologi yang berbeda-beda. Perbedaan ini meliputi: kwdalaman lapisan, batas horizon, warna, tekstur, struktur, konsistensi, perakaran, dan vegetasi flora sekitarnya. Tanah Sukamantri adalah tanah andosol yang notabene adalah tanah yang berbahan induk abu volkan, merupakan tanah yang relatif muda dibandingkan latosol dan podsolik, tanah andosol tersebut cocok untuk budidaya holtikultura dan kebun teh. Tanah Darmaga adalah tanah latosol yang bersolum dalam, mengalami pencucian dan pelapukan lanjut, berbatas horizon baur, kandungan mineral primer dan unsur hara rendah, konsistensi gembur dengan stabilitas agregat kuat dan terjadi pemupukan relatif seskwioksida di dalam tanah sebagai akibat pencucian silikat.

DAFTAR PUSTAKA

Buckman, H.O. and Brady, N.C. 1974. The Nature and Propreties of Soil. Mcmillan Pub, Inc.New York. 639 p.
http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/sistem-klasifikasi-tanah-nasional/index.
[Tanggal akses 27 Desember 2009]

Munir, Moch. 1995. Tanah-Tanah Utama di Indonesia Karakteristik, Klasifikasi dan pemanfaatannya. Pustaka Jaya. Jakarta.

Nugraha, J.R. 1984. Diktat Ilmu Tanah. Direktorat Program Diploma, Institut Pertanian Bogor. Bogor.t
Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 2000. Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian .

Sanchez, P. 1976. Propreties and Management of Soil in the tropics. John Willey & Sons. Inc. 411p.
Soepraptohardjo, M. dkk. 198?. Pedoman Pengmatan Tanah di Lapang. Lembaga Penelitian Tanah, Departemen Pertanian. Bogor

Tan, K . H . 1998. Andosols. Van Norstand Reinhold Company Inc. New york.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar